Kamis, 15 Desember 2011

ekonomi indonesia


A. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makro ekonomi dalam jangka panjang. Perkembangan kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat pertambahan faktor-faktor
produksi pada umumnya tidak selalu diikuti oleh pertambahan produksi barang dan jasa yang sama besarnya.

B. Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi

Proses pertumbuhan ekonomi dapat di ketahui dari teori pertumbuhan ekonomi.

a. Teori Austria

Teori Austria ini di kemukakan oleh empat ahli.

1. Werner Sombart

Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat di bagi menjadi tiga tingkatan.

a. Masa perekonomian tertutup

Pada masa ini, semua kegiatan manusia hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Individu atau masyarakat hanya bertindak sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen sehingga tidak terjadi pertukaran barang atau jasa. Masa perekonomian ini mempunyai cirri-ciri :

-         Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri,

-         Setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen, dan

-         Belum ada pertukaran barang atau jasa.

b. Masa Kerajinan dan Pertukangan

Pada masa ini kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif akibat perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat di penuhi sendiri sehingga di perlukan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran barang atau jasa. Petukaran barang dan jasa pada masa ini belum di dasari oleh tujuan untuk mencari keuntungan, namun semata-mata untuk memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki beberapa cirri-ciri :

-         Meningkatnya kebutuhan manusia,

-         Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian,

-         Timbulnya pertukaran barang dan jasa, dan

-         Pertukaran belum didasari profit motive.

c. Masa Kapitalis

Pada masa ini muncul kaum pemilik modal . Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis memerlukan para pekerja ( kaum buruh ). Produksi yang di lakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar memenuhi kebutuhannya, tetapi sudah bertujuan mencari laba. Ada empat macam masa kapitalis :

1. Tingkat Prakapitalisme

Masa ini memiliki beberapa cirri :

-         Kehidupan masyarakat masih statis

-         Bersifat kekeluargaan

-         Bertumpu pada sector pertanian

-         Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dan

-         Hidup secara berkelompok.

2. Tingkat Kapitalisme

Masa ini memiliki beberapa cirri :

-         Kehidupan masyarakat sudah dinamis,

-         Bersifat individual,

-         Adanya pembagian pekerjaan, dan

-         Terjadi pertukaran untuk mencari keuntungan.

3. Tingkat Kapitalisme Raya

Masa ini memiliki beberapa ciri :

-         Usahanya semata-mata mencari keuntungan,

-         Munculnya kaum kapitalis yang memiliki alat produksi,

-         Produksi di lakukan secara masal dengan alat modern,

-         Perdagangan mengarah ke persaingan monopoli, dan

-         Dalam masyarakat terdapat dua kelompok, yaitu majikan dan buruh.

4. Tingkat Kapitalisme Akhir

Msa ini memiliki beberapa cirri :

-         Munculnya aliran sosialisme,

-         Adanya campur tangan pemerintah dalam ekonomi,

-         Mengutamakan kepentingan bersama, dan

-         Hilangnya para majikan.

2. Friedrich list

Menurutnya pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat di bagi menjadi lima tingkatan.

 

a. Masa Pengembaraan

Masa Pengembaraan memiliki cirri-ciri :

-         Kehidupan bergantung pada alam,

-         Berpindah-pindah tempat,

-         Belum terjadi pertukaran dengan uang,

-         Berlaku hokum rimba,

-         Mata pencaharian utama adalah berburu.

b. Masa Berternak

Masa Berternak memiliki cirri-ciri :

-         Hidup secara berkelompok

-         Berpindah-pindah tempat

-         Hidup secara kekeluargaan

-         Belum terjadi perdagangan atau pertukaran.

c. Masa Bertani

Masa Bertani memiliki cirri- ciri:

-         Kehidupan mulai menetap

-         Mata pencaharian utam bertani,

-         Alat yang di gunakan dalam bertani masih sederhana, dan

-         Sudah terjadi tukar menukar atau perdagangan.

d. Masa Bertani dan Kerajinan Tangan

Masa ini memiliki cirri-ciri :

-         Kehidupan sudah menetap,

-         Mata pencaharian bertani dan kerajinan tangan

-         Sudah menggunakan alat-alat untuk pertanian

-         Sudah mengenal budaya,

-         Kerajinan tangan dapat membantu peningkatan penghasilan.

e. Masa industri dan perniagaan

Masa industri dan perniagaan memiliki cirri-ciri :

-         Kehidupan masyarakat sudah teratur

-         Peralatan yang di pergunakan sudah modern

-         Munculnya industri yang menyediakan lapangan kerja

-         Produksi dapat di perbanyak, dan

-         Perdagangan semakin maju dan berkembang.

 

3. Karl Bucher

Menurut Karl Bucher pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat di bedakan menjadi empat tingkatan.

a. Masa rumah tangga tertutup

Pada masa ini kehidupan masih segar sederhana. Masyarakat berproduksi untuk kepentingan dirinya sendiri. Masyarakat hidup secara individual.

b. Rumah tangga kota

Pada tingkatan rumah tangga kota masyarakat sudah mengenal petukaran sehingga mereka berproduksi bukan untuk kepentingan dirinya saja. Sudah terdapat pembagian pekerjaan pada masyarakat seperti pertukangan dan kerajinan.

 

c. Rumah tangga bangsa

Produksi yang di hasilkan masyarakat sudah di pergunakan dalam pertukaran secara nasional. Lalu lintas perdagangan semakin maju dan hubungan antara produsen dengan konsumen berjalan secara langsung.

d. Rumah tangga dunia

Pada masa ini, pertukaran internasional telah terjadi. Dengan adanya pertukaran internasional, memunginkan terjadinya spesialisasi produksi. Negara hanya akan memproduksi barang yang sesuai dengan kondisi negaranya saja dan kebutuhan terhadap barang lain dapat di penuhi dengan perdagangan antar Negara. Pada masa ini pula lah timbul hubungan antar Negara dan perdagangan internasional.

4. Bruno Hildebrand

Membagi pertumbuhan ekonomi menjadi tiga tahap.

a. Pertukaran natura

Pada masa ini kehidupan masyarakat masih sederhana dan belum mengenal mata uang. Untuk memenuhi kebutuhan , mereka mengadakan pertukaran yang di lakukan secara natura atau barter. Pertukaran ini tentu saja banyak mengalami kesulitan antara lain :

-         Sukar mencari orang yang memiliki barang yang di inginkan dan juga menginginkan barang yang dimiliki orang lain.

-         Dasar penentuan nilai tukar sangat subyektif

-         Wilayah atau daeranya sangat terbatas.

 

 

b. Pertukaran uang

Pada masa ini kehidupan masyarakat sudah mulai berkembang dan untuk pertukaran telah di kenal adanya mata uang sehingga pertukaran lebih lancer dan lebih luas. Pertukaran tidak hanya terbatas pada satu Negara saja, akan tetapi telah meluas dan mencakup antarnegara yang di sebut perdagangan internasional.

c. Pertukaran kredit

Masa pertukaran ini lebih maju karena dengan adanya pertukaran secara kredit dapat mempercepat dan memperlancar arus barang. Tentu saja system pertukaran ini banyak mengandung resiko khususnya bagi produsen, yaiyu resiko tidak terbayarnya kredit.

 

C. Teori Klasik dan Neoklasik

1. Teori Klasik

a. Adam Smith

Teori Adam Smith beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya bertumpu pada adanya pertumbuhan penduduk. Dengan adanya pertambahan penduduk maka akan terdapat pertambahan output atau hasil. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat di lihat dengan adanya pertambahan hasil. Kaitan antara pertumbuhan ekonomi dengan pertambahan hasil di lihat dari tiga faktor, yaitu :

-         Adanya persediaan sember daya alam

-         Adanya jumlah penduduk, dan

-         Persediaan barang modal.

 

b. David Richardo

David rrihardo mengemukakan bahwa alam semesta sangat terbatas dan pertumbuhan penduduk semakin pesat. Pada akhirnya tingkat perkembangan perekonomian statis atau bahkan rendah sehingga hanya mampu untuk keperluan hidup saja. David Richardo juga membedakan adanya kualitas kerja yang di akibatkan adanya tingkatan tenaga kerja. Teori klasik ini lebih menekankan pada teori harga, yaitu bahwa harga terbentuk karena adanya pertemuan antara penawaran dan permintaan.

3. Teori Neoklasik

Teori neoklasik di kemukakan oleh dua tokoh :

a. Robert Solow

Robert Solow berpendapat pertumbuhan ekonomi merupakan rangkaian kegiatan yang bersumber pada manusia, akumulasi modal, pemakaian teknologi modern, dan hasil atau output. Pertumbuhan penduduk dapat berdampak positif dan dapatberdampak negative. Oleh karena itu, menurut Robert Solow pertambahan penduduk harus di manfaatkan sebagai sumberdaya yang positif.

b. Harrord Domar

Teori ini beranggapan bahwa modal harus di pakai secara efektifkarena pertumbuhan ekonomi sangat di pengaruhi oleh peranan pembentukan modal tersebut. Teori ini juga membahas tentang pendapatan nasional dan kesempatan kerja.

 

 

D. Teori Historis

Salah satu tokoh teori histories adalah W.W. Rostow membagi pertumbuhan ekonomi sebagai berikut :

1. Masyarakat tradisional

Tingkatan ini merupakan kehidupan ekonomi yang terendah. Kemampuan masyarakat masih sangat terbatas sehingga tingkat produktivitasnya rendah. Kehidupannya masih sangat di pengaruhi lingkungan dan ikatan keluarga.

2. Masyarakat peralihan

Masyarakat sudah mulai melepaskan diri dari ikatan lingkungan dan masyarakat tidak puas dengan hasil yang lalu. Terjadi peralihan dari kebiasaan kea rah yang lebih maju. Pengetahuan masyarakat mulai meningkat, baik di bidang pertanian maupun industri,. Tingkat produktivitas semakin tinggi.

3. Periode lepas landas

Periode lepas landas ini di tandai dengan adanya kemampuan Negara untuk menghilangkan hambatan-hambatan kemajuan ekonomi. Hal ini berarti bangsa tersebut telah mampu mengatasi kesulitan ekonomi yang di hadapi Negara tersebut.

4. Gerak menuju kedewasaan

Tingkatan ini menunjukkan kematangan ekonomi suatu Negara yang di tandai dengan kemampuan memenuhi kebutuhannya dan tanpa terpengaruh keadaan ekonomi luar negeri. Perkembangan teknologi semakin pesat tanpa bantuan dari luar negeri dan telah mampu mendayagunakan segala potensi yang di miliki.

5. Tingkat konsumsi tinggi

Tingkatan perkembangan ekonomi ini merupakan tingkatan yang paling atas. Tingkatan ini menunjukkan adanya kemampuan memenuhi kebutuhan konsumsi, Yang berarti segala kebutuhan telah dapat terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa Negara pada tingkat pertumbuhan ini adalah Negara yang telah makmur.

 

E. Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Beragam pengalaman politik dan ekonomi yang telah diperoleh Indonesia sejak kemerdekaan pada tahun 1945, era orde lama, era orde baru, dan hingga era reformasi seperti sekarang. Iklim politik yang dinamis dirasakan Indonesia saat peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Walaupun cenderung mengarah ke otoriter, namun kehidupan ekonomi ketika itu mengalami perubahan kearah lebih baik. Pada era orde baru kegiatan pemerintah memang lebih banyak mengarah ke bidang ekonomi, meski terkesan monopolistic, sedangkan era orde lama dan era reformasi sekarang pemerintah lebih cenderung kebidang politik. Tetapi tetap saja urusan ekonomi menjadi perhatian pemerintah sekarang ini karena melihat terjadinya krisis ekonomi global.

a. Era Orde Lama (1945 - 1966)
Ketidakstabilan kehidupan politik dan seringnya kabinet berganti membuat perekonomian pun kurang berkembang dengan baik. Pertumbuhan ekonomi mengalami kemunduran yang drastis dari 6,9 % pada periode 1952-1958 menjadi hanya 1,9 % saat periode 1960-1965. Ketika itu harga-harga terus membumbung tinggi karena terjadinya defisit anggaran belanja pemerintah yang terus meningkat setiap tahunnya yang kemudian dibiayai dengan mencetak uang baru.  Hingga pada akhir kekuasaan pada tahun 1966, laju inflasi terus meningkat mencapai 650 %.

b. Era Orde Baru (1966 - 1997)
Pada masa transisi ini, perekonomian Indonesia masih tidak menentu. Dari segi ekonomi saja banyak sekali masalah pelik yang diwariskan oleh orde lama kepada orde baru. Untuk menyelamatkan perekonomian ini, pemerintah menetapkan beberapa langkah prioritas kebijakan ekonomi dengan membagi dalam program jangka pendek dan jangka panjang.
Program jangka pendek ditempuh dalam dua tahun dengan empat tahap penyelamatan. Setelah dua tahun, dilanjutkan dengan program jangka panjang yang terdiri atas rangkaian Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang berjalan penuh hingga Pelita VI, sedangkan pelita VII sempat berjalan satu anggaran tahun saja.
Pada era orde baru baru ini, terjadi krisis yang berkelanjutan dari krisis moneter, krisis ekonomi, krisis politik, hingga krisis sosial yang selalu diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa. Aksi-aksi mahasiswa ini berujung turunnya Presiden Soeharto dari jabatannya yang menandai runtuhnya rezim orde baru. Selama rezim orde baru tersebut pembangunan diarahkan pada pencapaian Trilogi Pembangunan yang termasuk dalam rangkaian Pelita. Pada Pelita VI yang seharusnya direncanakan sebagai era pembangunan ekonomi tinggal landas (take off). Namun yang awalnya sektor pertanian sebagai penyumbang utama terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kemudian digantikan oleh sektor industri pengolahan. Langkah ini ternyata gagal, bukannya menjadi penghasil devisa, industri pengolahan ini malahan menjadi penghambur devisa.
Strategi industrialisasi import yang diterapkan pemerintah Indonesia ternyata telah gagal membawa perekonomian Indonesia tinggal landas dan mengurangi kesenjangan dengan negara-negara maju. Perekonomian Indonesia malahan semakin terpuruk karena fundamentalnya kurang kuat memegang sektor industri. Berarti dalam kasus ini, teori Fedrich List telah terbukti, bahwa di daerah berhawa tropis hanya cocok untuk sektor ekonomi pertanian.



c. Masa Reformasi (1998 - sekarang)

Krisis moneter yang belanjut dengan krisis ekonomi masih belum bisa dipisahkan pada masa reformasi ini. Walaupun ada pertumbuhan ekonomi sekitar 6% untuk tahun 1997 dan 5,5% untuk tahun 1998, namun belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan karena laju inflasi masih tinggi yaitu sekitar 10%. Hal berbeda terjadi pada tahun 1999 yang sudah mengalami pertumbuhan positif, pada tahun 1998 seluruh sektor masih mengalami pertumbuhan negatif.
 Sejak tahun 1999 hingga sekarang, pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin menunjukan kearah yang menggembirakan. Di bawah kepemimpinan yang demokratis, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus mengalami pemulihan. Dari sini, Indonesia telah mendapatkan pengakuan di mata dunia hingga dinobatkan sebagai terbaik ketiga di dunia. Bahkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, ke depannya menargetkan pertumbuhan ekonomi selama 2010-2014 rata-rata sekitar 6,3 bahkan 6,9 % persen per tahun dengan pertumbuhan di tahun 2010 sebesar 7 % - 7,2 %. Namun tetap saja, semuanya dikembalikan lagi pada fluktuasi stabilitas sosial, politik, dan keamanan bangsa. Jika tidak terjadi pasang surut, maka semuanya bisa berjalan dengan lancar.
Namun yang sangat membingungkan dari tahapan perkembangan ekonomi Indonesia adalah sebelum Indonesia menyelesaikan tahap Lepas Landas (take off), Indonesia langsung meloncat ke arah Konsumsi Tinggi (the age of high mass consumtion) seperti sekarang ini. Munculnya banyak masyarakat yang konsumtif di daerah perkotaan tanpa peduli dengan keadaan ekonomi bangsa. Belum lagi tingkat belanja para pejabat Negara yang tinggi sekali dengan memakai uang rakyat. Tentunya hal ini tanpa melewati tahap gerakanke arah kedewasaan (the drive of maturity).

F.Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi
Faktor-faktor pertumbuhan ekonomi tidak lepas dari permasalahan kesenjangan dalam pengelolaan perekonomian, dimana pemilik modal besar yang lebih berkesempatan daripada pengusaha kecil. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum,yaitu:
  1. Faktor Produksi, yaitu tenaga kerja harus dimanfaatkan dan seoptimal mungkin menggunakan bahan baku industri dalam negeri.
  2. Faktor Investasi, yaitu mempermudah kebijakan investasi dan berpihak pada pasar.
  3. Faktor perdagangan Luar Negeri dan Neraca pembayaran, harus surplus sehingga cadangan devisa bisa ditingkatkan dan nilai rupiah pun menjadi stabil.
  4. Faktor Kebijakan Moneter dan Inflasi, yaitu harus selalu mengantisipasi nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga sehingga dapat diterima pasar.
  5. Faktor Keuangan Negara, yaitu kemampuan membiayai pengeluaran pemerintah (defisit) dengan kebijakan fiskal yang konstruktif.

































DAFTAR PUSTAKA



Rosyidi, Suherman. 1999. Pengantar Teori Ekonomi Edisi Baru. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mankiw,N.Gregory. 2002. Pengantar Ekonomi. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Sukwiaty. 2007. Ekonomi 2. Bandung: Yudhistira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar